Detail Berita Hero
Konservasi 26 November 2025 2 menit baca

Bawean menjadi Saksi, Pengetahuan Warga Menjadi Kompas Konservasi

Admin Website 2 Views 0 Shares

Di Pulau Bawean, konservasi tidak hanya berjalan di rimba, ia hidup di tengah masyarakatnya. Selama delapan hari, mulai 3 hingga 10 November 2025, Tim RKW 10 Pulau Bawean bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari melangkah menyusuri lereng-lereng Cagar Alam Pulau Bawean. Patroli SMART ini bukan sekadar tugas teknis, tetapi perjalanan yang menegaskan bahwa penjagaan hutan hanya akan kuat bila warga menjadi bagian dari denyutnya.

Patroli menyisir area ±73,75 Ha, dari Payung-payung hingga Gunung Besar, menyusuri jalur rutin dan jalur baru yang disarankan berdasarkan pengalaman lokal masyarakat. Para anggota MMP yang lahir dan tumbuh di Bawean mengenal setiap tikungan semak, setiap aliran air, setiap tanda perubahan hutan. Pengetahuan mereka menjadi kompas hidup yang memandu tim melewati topografi yang tak seindah dalam goresan peta digital.

Di tengah kanopi yang dihuni Pangopa, Gondang, Badung, dan Kesambi, tim mencatat kembali kemunculan satwa-satwa khas Bawean. Suara Merbah Belukar, kalong yang melintas, hingga gesekan serasah dan biawak air menjadi penanda bahwa ekosistem masih berfungsi. Namun bagi masyarakat Bawean, ini bukan sekadar daftar temuan. Ini adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, bagian dari rumah mereka yang harus dijaga.

Begitu pula dengan anggrek-anggrek epifit seperti Rhynchostylis retusa dan Pholidota imbricata. Warga setempat sering menjadi pihak pertama yang mengetahui perubahan pada lokasi tumbuhnya, dan informasi itu membantu tim memperbarui data secara akurat.

Pada beberapa grid penting, tim mencatat keberadaan mata air dan sungai yang menjadi tumpuan bagi satwa dan masyarakat. Warga desa yang mendampingi patroli sering memberi wawasan tambahan, kapan debit air berubah, kapan satwa datang mendekat, atau kapan kawasan mulai mengalami tekanan. Informasi lokal seperti inilah yang membuat patroli bukan hanya kegiatan pengawasan, tetapi juga riset ekologis berbasis pengetahuan lokal.

Selama kegiatan, tim melakukan koordinasi dengan pemerintah desa dan berdialog dengan warga. Penyampaian pesan konservasi dilakukan sederhana namun kuat, untuk mengajak masyarakat untuk menjaga hutan bukan karena kewajiban hukum, tetapi karena hutan adalah warisan yang menentukan kehidupan generasi mereka sendiri.

Dari percakapan santai di teras rumah hingga diskusi kelompok kecil, terbentuk pemahaman bahwa kelestarian kawasan bukan hanya tugas negara, tetapi juga kebanggaan bersama orang Bawean.

Patroli SMART ini menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat bukan pelengkap, melainkan inti dari pengelolaan kawasan konservasi di Pulau Bawean. Tanpa mereka, hutan mungkin hanya bertahan, namun dengan mereka, hutan memiliki harapan. (dna)

Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Galeri Foto

Gallery Image
Beri Rating
Bagikan:
Link disalin!

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

Berita Terkait

Pembinaan Pegawai Balai Besar KSDA Jawa Timur, Perkuat Sinergitas Dan Integritas
Konservasi
06 March 2026Admin
Pembinaan Pegawai Balai Besar KSDA Jawa Timur, Perkuat Sinergitas Dan Integritas
Baca Selengkapnya
Tim Matawali Evakuasi Monyet Ekor Panjang Dari Tengah Kota Pamekasan
Konservasi
06 March 2026Admin
Tim Matawali Evakuasi Monyet Ekor Panjang Dari Tengah Kota Pamekasan
Baca Selengkapnya
Jejak Bentung Yang Kembali, Harapan Baru Lutung Jawa Joko Tarub
Konservasi
06 March 2026Admin
Jejak Bentung Yang Kembali, Harapan Baru Lutung Jawa Joko Tarub
Baca Selengkapnya