Detail Berita Hero
Konservasi 02 February 2026 3 menit baca

Potret Keanekaragaman Burung Air dan Pentingnya Mangrove Wonorejo

Admin Website 2 Views 0 Shares

Catatan Asian Waterbird Census 2026 dalam Menjaga Jalur Migrasi dan Ekosistem Lahan Basah Jawa Timur

Di hamparan lumpur Mangrove Wonorejo, Surabaya, jalur migrasi burung air dunia dijaga dalam sunyi. Pada 30 Januari 2026, tim Seksi KSDA Wilayah III Surabaya melaksanakan Asian Waterbird Census (AWC) 2026, sebuah pemantauan yang merekam denyut kehidupan burung air migran, residen, hingga endemik di salah satu ekosistem lahan basah terpenting Jawa Timur.

Kegiatan ini mencatat 14 jenis burung air yang memanfaatkan Mangrove Wonorejo sebagai tempat singgah, mencari makan, dan bertahan hidup. Di hari yang sama, disaat sebagian personel mengevakuasi satwa konflik dari permukiman warga, tim lainnya berdiri di lumpur pesisir—menegaskan bahwa konservasi hadir di lebih dari satu medan tugas. Menyelamatkan satwa dan menjaga jalur migrasi yang senyap namun vital.

Membaca Jejak Migrasi di Lahan Basah Pesisir Hasil pengamatan AWC menunjukkan keberadaan burung migran penuh, migran sebagian, residen, hingga endemik Jawa. Dari kelompok migran penuh tercatat Trinil Pantai (Actitis hypoleucos), Trinil Semak (Tringa glareola), Kedidi Leher Merah (Calidris ruficollis), Dara Laut Aleutian (Onychoprion aleuticus), dan Blekok Cina (Ardeola bacchus). Kehadiran mereka menegaskan peran Mangrove Wonorejo sebagai titik persinggahan penting di lintasan migrasi Asia–Australasia.

Kelompok migran sebagian seperti Cangak Merah (Ardea purpurea), Kirik-Kirik Laut (Merops philippinus), Kokokan Laut (Butorides striata), serta Dara Laut Tengkuk Hitam (Sterna sumatrana) memperlihatkan fleksibilitas penggunaan habitat pesisir yang dinamis, bergantung musim, pasang surut, dan ketersediaan pakan. Sementara itu, burung residen seperti Pecuk Padi Asia (Phalacrocorax sulcirostris), Kuntul Kecil (Egretta garzetta), Blekok Sawah (Ardeola speciosa), dan Kowak Malam Kelabu (Nycticorax nycticorax) menandai fungsi mangrove sebagai rumah yang menetap.

Yang paling istimewa, Cerek Jawa (Anarhynchus javanicus), burung endemik Pulau Jawa, juga tercatat. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa perlindungan lahan basah pesisir bukan sekadar isu migrasi global, tetapi juga tanggung jawab menjaga warisan hayati Nusantara.

Empat Jenis Dilindungi, Satu Ekosistem Kunci Mengacu pada Permen LHK Nomor P.106, setidaknya empat jenis burung berstatus dilindungi tercatat selama pengamatan mulai dari dara laut tengkuk hitam, dara laut aleutian, cerek jawa, dan blekok cina. Data ini memperkuat urgensi pengelolaan Mangrove Wonorejo sebagai habitat kunci, bukan hanya benteng ekologis pesisir, tetapi juga simpul keselamatan spesies.

Mangrove menyediakan kombinasi unik: substrat berlumpur kaya organisme, perairan dangkal produktif, serta kanopi pelindung dari gangguan. Di sinilah burung-burung air memulihkan energi setelah ribuan kilometer terbang, sebelum melanjutkan perjalanan lintas benua.

Konservasi di Dua Medan AWC 2026 Part I juga mencerminkan realitas kerja konservasi, serentak dan tak selalu terlihat. Pada hari yang sama, personel Seksi KSDA Wilayah III Surabaya menjalankan tugas berbeda di lokasi berbeda, menangani konflik satwa di permukiman, sekaligus menjaga jalur migrasi di pesisir. Dua medan, satu tujuan, memastikan manusia dan satwa dapat berbagi ruang hidup secara aman.

Lebih dari sekadar angka, hasil AWC menjadi dasar pengambilan kebijakan, menilai kesehatan ekosistem lahan basah, memetakan ancaman, dan merancang langkah pengelolaan adaptif. Di tengah tekanan urbanisasi pesisir, data lapangan yang konsisten adalah kompas agar pembangunan tidak memutus nadi migrasi burung air.

Menjaga yang Senyap namun Vital Mangrove Wonorejo mungkin tidak selalu menjadi panggung utama, tetapi ia bekerja tanpa henti, menahan abrasi, menyaring polutan, dan memberi ruang hidup bagi ratusan spesies. AWC 2026 mengingatkan kita bahwa konservasi bukan peristiwa sesaat, melainkan proses panjang yang membutuhkan kehadiran, ketekunan, dan data.

Di lumpur yang sunyi itu, negara hadir. Menjaga jalur migrasi dunia, sambil merawat ekosistem lahan basah Jawa Timur agar tetap bernapas, hari ini dan esok.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim Editor : Agus Irwanto Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik

Galeri Foto

Gallery Image
Gallery Image
Beri Rating
Bagikan:
Link disalin!

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

Berita Terkait

Pembinaan Pegawai Balai Besar KSDA Jawa Timur, Perkuat Sinergitas Dan Integritas
Konservasi
06 March 2026Admin
Pembinaan Pegawai Balai Besar KSDA Jawa Timur, Perkuat Sinergitas Dan Integritas
Baca Selengkapnya
Tim Matawali Evakuasi Monyet Ekor Panjang Dari Tengah Kota Pamekasan
Konservasi
06 March 2026Admin
Tim Matawali Evakuasi Monyet Ekor Panjang Dari Tengah Kota Pamekasan
Baca Selengkapnya
Jejak Bentung Yang Kembali, Harapan Baru Lutung Jawa Joko Tarub
Konservasi
06 March 2026Admin
Jejak Bentung Yang Kembali, Harapan Baru Lutung Jawa Joko Tarub
Baca Selengkapnya