Detail Berita Hero
Konservasi 06 January 2026 3 menit baca

Pulau Bawean, Menanam Pengetahuan, Bukan Kopi

Admin Website 2 Views 0 Shares

Rencana penanaman bibit kopi di kawasan Blok Teneden, Suaka Margasatwa (SM) Pulau Bawean, akhirnya tidak dilanjutkan. Keputusan itu lahir setelah tim RKW 9 Gresik–Bawean melakukan koordinasi dengan Pengasuh Pondok Pesantren Penaber Bawean, Kyai Mustofa, yang sebelumnya mengusulkan pengembangan kebun kopi di area terbuka dekat kawasan.

Pertimbangannya jelas, bahwa kopi bukan tanaman asli Pulau Bawean. Jika masuk ke kawasan konservasi, tanaman tersebut berpotensi menggeser vegetasi lokal dan memicu perubahan ekologi yang sulit dipulihkan, terutama pada pulau kecil dengan ekosistem yang rapuh.

Di sinilah garis batas konservasi ditegaskan, apa yang terlihat hijau belum tentu ramah bagi hutan.

Dalam dialog yang berlangsung terbuka (05/01/2025), Kyai Mustofa menerima penjelasan dan menyepakati bahwa penanaman kopi tidak dilakukan di dalam kawasan. Rencana budidaya kemudian dialihkan ke lahan masyarakat, melalui pola kerja sama yang lebih aman bagi hutan. Keputusan itu menempatkan konservasi sebagai kendali arah. Ekonomi tetap berjalan, tetapi tidak mengorbankan habitat alami.

Dari silaturahmi tersebut, muncul gagasan baru bagaimana membangun taman edukasi berisi tanaman endemik dan eksotik khas Bawean. Ruang itu dirancang menjadi tempat belajar bagi santri dan pelajar, mengenali tanaman, memahami fungsi ekosistem, dan merawat alam sebagai amanah. Jika terlaksana, taman edukasi akan menjadi laboratorium hidup, menghubungkan ilmu, tradisi pesantren, dan konservasi dalam satu lanskap.

Di sela diskusi, Kyai Mustofa mengungkap kegelisahannya tentang ekosistem sungai di sekitar pemukiman yang dulu kaya ikan, kini hampir kosong. Perubahan aliran, penangkapan berlebih, atau kualitas air yang menurun diduga ikut memengaruhi. Keinginan untuk mengelola sungai secara lebih bijak menjadi tanda bahwa pemulihan ekosistem air tawar perlu segera mendapat perhatian.

Di lereng Bukit Pataonan, di luar kawasan konservasi, Kyai Mustofa berkeinginan mengembangkan konsep wisata edukasi dan bumi perkemahan. Di lokasi itu terdapat potensi batu marmer bernilai tinggi. Namun ia memilih tidak menjual dan tidak membuka tambang.

Pertimbangannya sederhana bahwa tambang dapat memicu longsor, merusak tutupan lahan, dan mengancam keselamatan di hilir. Pilihan menahan diri menjadi sikap konservasi yang sering tidak terlihat, tetapi menentukan.

Sebuah informasi menarik, masyarakat setempat menyebut, sebelum gempa 2024, Rusa Bawean masih sesekali terlihat. Kini, keberadaannya jarang terpantau. Kondisi ini menjadi isyarat perlunya pemantauan habitat secara berkelanjutan, guna memastikan kelangsungan salah satu satwa ikonik pulau.

Dari rencana penanaman kopi, lahir pelajaran lebih besar. Suaka margasatwa bukan kebun produksi, ia adalah rumah bagi kehidupan, tempat spesies endemik bertahan, air terjaga, dan bentang alam menyimpan cerita ribuan tahun. Kerja sama antara tokoh masyarakat, pesantren, dan BBKSDA Jatim menunjukkan jalan tengah, konservasi, pendidikan, dan kesejahteraan bisa berjalan beriringan, selama batas-batas alam dihormati.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim Editor : Agus Irwanto

Galeri Foto

Gallery Image
Beri Rating
Bagikan:
Link disalin!

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

Berita Terkait

Pembinaan Pegawai Balai Besar KSDA Jawa Timur, Perkuat Sinergitas Dan Integritas
Konservasi
06 March 2026Admin
Pembinaan Pegawai Balai Besar KSDA Jawa Timur, Perkuat Sinergitas Dan Integritas
Baca Selengkapnya
Tim Matawali Evakuasi Monyet Ekor Panjang Dari Tengah Kota Pamekasan
Konservasi
06 March 2026Admin
Tim Matawali Evakuasi Monyet Ekor Panjang Dari Tengah Kota Pamekasan
Baca Selengkapnya
Jejak Bentung Yang Kembali, Harapan Baru Lutung Jawa Joko Tarub
Konservasi
06 March 2026Admin
Jejak Bentung Yang Kembali, Harapan Baru Lutung Jawa Joko Tarub
Baca Selengkapnya