Detail Berita Hero
Konservasi 07 January 2026 2 menit baca

Saat Kepedulian Warga Menjadi Benteng Terakhir Cagar Alam

Admin Website 2 Views 0 Shares

Di atas laut biru yang membingkai Pulau Saobi, hutan cagar alam itu berdiri seperti oasis kecil. Sunyi, namun penuh cerita. Pada 6 Januari 2026, bukan rombongan besar petugas yang menembus jalur-jalur sempit itu, melainkan seorang anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) yang tetap setia berkeliling, dengan satu alasan sederhana yaitu peduli.

Dalam patroli sukarelanya, Feri Kurniawan menemukan jejak yang perlu dicermati, tonggak kayu perreng berdiameter 29 dan 40 sentimeter di sekitar Dusun Pajenasem, serta penggembalaan sapi yang memasuki kawasan. Bukan sekadar catatan pelanggaran, namun itulah potret pergulatan sehari-hari antara kebutuhan hidup dan kewajiban menjaga alam.

Bagi warga Saobi, kayu perreng bukan komoditas mewah. Ia adalah pasak yang mengunci lambung perahu, pagar rumah, dan penyangga kehidupan keluarga. Di pulau kecil, pilihan seringkali terbatas. Namun di tengah keterbatasan itu, masih ada orang-orang yang memilih menjaga, mengingatkan, melapor, dan berdiskusi agar hutan tidak kehilangan napasnya.

Kini, pengawasan di Saobi bertumpu pada sedikit orang yang tak ingin kawasan ini hilang perlahan. Mereka bukan sekadar “mata” di lapangan, melainkan jembatan antara pemerintah dan masyarakat. Yang menenangkan, menjelaskan, dan membangun kesadaran bahwa hutan yang utuh sesungguhnya kembali kepada warga, menjaga air, tanah, dan masa depan anak-anak mereka.

Balai Besar KSDA Jawa Timur merawat ikatan ini melalui komunikasi yang terbuka dan penghargaan tulus. Imbalan sederhana bagi MMP bukan bentuk transaksional, tetapi tanda terima kasih, pengakuan bahwa kepedulian mereka berarti. Dari dialog yang pelan namun konsisten, tumbuhlah harapan, pemanfaatan lebih bijak, penggembalaan yang diarahkan, dan kesepahaman bahwa cagar alam adalah warisan bersama.

Saobi mengajarkan bahwa konservasi tidak selalu lahir dari operasi besar. Kadang ia bermula dari langkah seorang warga yang menolak diam. Dari kepedulian kecil yang menyalakan kepedulian lain. Jika hutan ini bertahan, itu karena manusia yang tinggal di sekitarnya memilih untuk ikut menjaganya, dengan cara sederhana, namun berdampak panjang.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim Editor : Agus Irwanto Sumber : Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik

Galeri Foto

Gallery Image
Beri Rating
Bagikan:
Link disalin!

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

Berita Terkait

Pembinaan Pegawai Balai Besar KSDA Jawa Timur, Perkuat Sinergitas Dan Integritas
Konservasi
06 March 2026Admin
Pembinaan Pegawai Balai Besar KSDA Jawa Timur, Perkuat Sinergitas Dan Integritas
Baca Selengkapnya
Tim Matawali Evakuasi Monyet Ekor Panjang Dari Tengah Kota Pamekasan
Konservasi
06 March 2026Admin
Tim Matawali Evakuasi Monyet Ekor Panjang Dari Tengah Kota Pamekasan
Baca Selengkapnya
Jejak Bentung Yang Kembali, Harapan Baru Lutung Jawa Joko Tarub
Konservasi
06 March 2026Admin
Jejak Bentung Yang Kembali, Harapan Baru Lutung Jawa Joko Tarub
Baca Selengkapnya